Bendahara DPC Demokrat Ikut Jadi Tersangka di Kasus Bupati Penajam Paser Utara

LIMAPAGI - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Penajam Paser Utara Kalimantan Timur (Kaltim), Abdul Gafur Mas'ud, menjadi tersangka kasus dugaan suap. Kasus itu terkait pengadaan barang dan jasa serta perizinan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim tahun anggaran 2021-2022.

Dalam kasus ini, KPK hanya menetapkan enam dari 11 orang yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) sebagai tersangka. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, sebagai terduga pemberi suap adalah Achmad Zuhdi alias Yudi selaku pihak swasta.

"Sebagai penerima, AGM (Abdul Gafur Mas'ud) Bupati Kabupaten Penajam Paser Utara periode 2018-2023, MI (Mulyadi) Plt Sekda Kabupaten Penajam Paser Utara, EH (Edi Hasmoro) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Penajam Paser Utara, JM (Jusman) Kepala Bidang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara, dan NAB (Nur Afifah Balqis) swasta atau Bendahara Umum DPC Partai Demokrat Balikpapan," ungkap pria yang akrab disapa Alex itu dilansir dari akun YouTube KPK, Kamis, 13 Januari 2022.

Baca Juga: KPK Tetapkan 6 Orang Termasuk Bupati Penajam Paser Utara Jadi Tersangka Suap

Alex kemudian menjelaskan kronologi OTT tersebut. Pada Rabu, 12 Januari 2022, KPK mendapat informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan penerimaan sejumlah uang oleh penyelenggara negara yang diduga telah ada kesepakatan sebelumnya.

"Tim selanjutnya bergerak dan berpencar ke beberapa lokasi untuk menindaklanjuti informasi tersebut. Di antaranya yang berada di wilayah
di Jakarta dan Kalimantan Timur," katanya.

Alex menyampaikan, sebelumnya, pada Selasa 11 Januari 2022 bertempat di salah satu kafe di Balikpapan dan sekitar Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Abdul Gafur memerintahkan salah satu orang kepercayaannya, yakni Nis Puhadi alias Ipuh (NP) mengumpulkan sejumlah uang.

Uang itu berasal dari beberapa kontraktor yang akan diberikan lewat Plt Sekda Penajam Paser Utara Muliadi (MI), Kepala Bidang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Penajam Paser Utara Jusman (JM), dan staf di Dinas PUPR Penajam Paser Utara.

"Adapun uang dalam bentuk tunai yang terkumpul sejumlah sekitar Rp950 juta. Selanjutnya setelah uang terkumpul, NP (Ipuh) kemudian melaporkan kepada AGM (Abdul Gafur) bahwa uang siap untuk diserahkan kepada AGM (Abdul Gafur)," jelas Alex.

Alex melanjutkan, Abdul Gafur kemudian memerintahkan Ipuh membawa uang Rp950 juta itu ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Ipuh dijemput orang kepercayaan Abdul Gafur lainnya, yakni Rizky (RK) dan mendatangi rumah Abdul Gafur di wilayah Jakarta Barat guna menyerahkan uang tersebut.

Tak lama kemudian, Abdul Gafur mengajak Ipuh dan Bendahara Umum DPC Partai Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis (NAB) untuk mengikuti agendanya di Jakarta. Setelah itu, mereka pergi ke salah satu mal di wilayah Jakarta Selatan dengan membawa uang Rp950 juta tersebut.

Alex berujar, atas perintah Abdul Gafur, Nur Afifah kemudian menambahkan uang sebesar Rp50 juta yang berasal dari rekening bank miliknya. Sehingga, uang yang terkumpul menjadi Rp1 miliar dan dimasukkan ke dalam tas koper yang sudah disiapkan Nur Afifah.

"Ketika AGM (Abdul Gafur), NP (Ipuh), dan NAB (Nur Afifah) berjalan ke luar dari lobi mal, tim KPK seketika itu langsung mengamankan AGM (Abdul Gafur), NP (Ipuh), NAB (Nur Afifah), dan pihak lainnya beserta uang tunai sejumlah Rp1 miliar," beber Alex.

Bersamaan dengan itu, tim KPK juga turut mengamankan beberapa pihak di Jakarta, yaitu
Muliadi, Welly (WL) selaku istri Muliadi, dan Achmad Zuhdi alias Yudi (AZ) selaku pihak swasta.

Sedangkan tim KPK yang berada di wilayah Kaltim, mengamankan dua orang kepercayaan Abdul Gafur, yaitu Supriadi alias Usup (SP) dan
Asdar (AD). Kemudian Jusman dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Penajam Paser Utara Edi Hasmoro (EH).

Baca Juga: Kena OTT KPK, Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Berharta Rp36,7 Miliar

Alex menuturkan, pihaknya juga menemukan uang yang tersimpan dalam rekening bank
milik Nur Afifah sebesar Rp447 juta. Uang itu diduga milik Abdul Gafur yang berasal dari para rekanan.

"Selanjutnya, seluruh pihak yang diamankan beserta barang bukti berupa uang tunai sejumlah Rp1 Miliar dan rekening bank dengan
saldo Rp447juta serta sejumlah barang belanjaan, dibawa ke gedung Merah Putih untuk dilakukan pemeriksaan dan permintaan keterangan," tutur Alex.

KABAR LAINNYA